Semesta Berbisik

We'ar All Human, Celebrate Diversity

COVID-19; Impact of 4.0 Industrial Plan

Analisis dari tulisan sepertinya sudah tidak konteks untuk saat ini, karena pada awalnya tulisan ini terlahir di minggu ketiga Maret 2020.

15 Maret 2020 Indonesia sedang digemparkan oleh surat resmi yang dikeluarkan oleh beberapa kantor pemerintahan, bahkan tidak tanggung-tanggung sampai beberapa fasilitas publik, perayaan kreatifitas, sekolah dan pembelajaran di kampus negeri maupun swasta juga ikut kena dampaknya. Terhitung sejak tanggal 16 hingga jangka waktu yang belum ditentukan semua dikembalikan ke rumah masing-masing, segala bentuk pekerjaan dilakukan dari rumah dengan bantuan jaringan internet.

Kejadian seperti ini sangat mirip dengan asumsi industri 4.0 yang di dalamnya semua pekerjaan dapat dilakukan dimana dan kapan saja. Turunan dari hal itu, mulanya pekerjaan dari rumah dilakukan oleh orang-orang tertentu saja, namun hal ini semakin massif didapati setelah adanya COVID-19. Tanpa disadari umat manusia berhasil menjawab tantangan itu, walaupun pekerjaan yang dimaksud hanya mencakupi beberapa bagian pekerjaan saja. Bagi mereka bekerja tanpa “ruang” bukan masalah besar dan mendasar, hal utama yang mereka perlukan adalah jaringan internet yang cepat tanpa lemot.

Selain itu, tentu COVID-19 ini tidak menarik jika dilihat dari satu sisi saja, melainkan harus dipandang dari beberapa sudut yang berbeda. Michel Foucault (1975) pernah memperkenalkan tentang biopolitik dan biopower, ia berasumsi jika konsep tubuh dapat diatur, dimaknai dan dikontrol populasinya sesuai dengan kehendak, keinginan dan kemauan pemerintah. Adanya kekuatan sosial dan politik atas sebuah kehidupan membuat tubuh menjadi objek atas kekusasaan, dalam hal ini di atur oleh aktor-aktor tertentu tentu salah satunya karena alasan ekonomi.

Untuk mengatur populasi maka tawaran menggukan virus, masih dianggap sebagai solusi yang jitu. Bisa diprediksi dan sangat bisa ditebak anti-virus selalu ditemukan dari negara maju, baak super hero yang menyelamatkan orang banyak, begitu laku negara maju untuk negara-negara berkembang. Hadirnya perilaku semacam ini, tentu harus didudukkan untuk melihat dan menelaah populasi, tidak melulu mengenai virus dan ketakutan.

Berbeda dengan Foucault, Marvin Harris (1974) dalam mengatur populasi daerah tertentu memperkenalkan konsep berbeda, Harris berasumsi jika salah satu jalan untuk menekan populasi adalah dengan cara mengadakan peperangan. Bagi Harris untuk mengatur ekonomi dengan sumber daya yang pas-pasan, maka populasi harus diatur bahkan ditekan keberadaannya. Jalan terbaik untuk mengatur itu dengan cara yang lebih primitif adalah perang, walaupun pernyataan Harris ini tidak betul-betul sejalan dengan konteks yang ada saat ini.

Jadinya orang-orang bibuat panik oleh pikirannya sendiri, karena yang dilihat hanya perkara tubuh, pikiran yang mestinya diperkenalkan dengan konsep sehat, mendapat tempat nomor dua. Jadi akan sangat wajar jika rumah sakit lewat pemerintah, cenderung merahasiakan penyebaran virus ini di Indonesia secara umum. Karena mereka sangat mengerti, dengan tipikal latah mengenai penyebaran informasi sebahagian rakyatnya, dimana gawaynya lebih cerdas dari pikirannya.

Perspektif lain lagi, NASA di tahun 2020 justru merilis gambar polusi udara yang terjadi di Cina dan Italia. Secara signifikan polusi di dua negara itu turun derastis, singkatnya NASA ingin mengatakan dari hasil citra yang diambil dari setelit luar angkasa antara bulan Januari ke Februari, memperlihatkan perbedaan yang cukup jelas. Sebelumnya, dari hasil penelitian membuktikan jika polusi udara dalam satu tahun bisa menyebabkan 8,8 juta kasus manusia meninggal dunia. lebih parah dari peristiwa perang, dan penyakit vatal lainnya. Bahkan Thomas Munzel dari IFL Science melansir, jika dua pertiga dari angka kematian dini di dunia, disebabkan dari polusi udara buatan manusia sendiri, terutama bahan bakar fosil.

Kembali pada COVID-19, yang saya tuliskan diatas bukan melulu dimaknai sebagai kontroversi atau malah dianggap konspirasi, justru saya menuliskan hal di atas karena melihat perkembangan ilmu pengetahuan yang mudah sangat dinamis. Hal yang terakhir dan perlu menjadi renungan ialah, bagaimana jika selama ini manusia malah dianggap sebagai virus bagi alam, lingkungan dan bahkan Bumi, sedangkan Covid-19 adalah penyembuh dari itu, apakah Bumi masih memerlukan manusia?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *