Semesta Berbisik

We'ar All Human, Celebrate Diversity

Ironi Pendidikan: Menakar Efektifitas Nguli(ah) Online di Masa Pandemi Covid-19

Judul ini saya sesuaikan dengan tema diskusi yang diangkat oleh Panitia Pelaksana.

Ironi Pendidikan

2 Mei kemarin idealnya mahasiswa di Makassar merayakan Hari Pendidikan Nasional dengan turun ke jalan, membakar ban sembari menyuarakan aspirasi, peristiwa semacam ini sudah menjadi agenda tahunan yang kerap kali membuat macet ruas jalan protokol di Kota Makassar.

Namun di tahun ini, peristiwa rutin itu nampak mengalami kekosongan pergerakan dari aksi mahasiswa. Adanya pandemi Covid-19 memaksa beberapa dari mereka meninggalkan tanah rantau dan kembali ke kampung halaman, tentu dengan berbagai alasan yang mendasar.

Salah satunya adalah biaya hidup, tinggal dan menetap di Kota Makassar dalam situasi pandemi bukanlah pilihan yang strategis. Mengingat kota ini sudah masuk dalam kawasan zona merah, juga Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) telah dilaksanakan.

Itu artinya, bertengger sebagai mahasiswa dari sekret ke sekret atau kos ke kos bukanlah hal yang tepat. Namun balik ke kampung dengan meninggalkan kos dalam keadaan kosong dalam waktu yang cukup lama juga bukan solusi yang baik.

Belum lagi lagi jika ongkos sewa kos yang tidak bersahabat, jaminan keamanan yang kurang baik, menambah permasalahan baru dalam beban pikir mahasiswa. Sementara jika mereka harus kuliah online dan dituntut harus begini serta mesti begitu.

Menimbulkan sederet permasalahan mahasiswa, setelah persoalan kuota internet yang tidak lagi stabil. Inilah sederet ironi yang di rasakan oleh Mahasiswa di Makassar saat ini, kuliah berbasis online mestinya menjadi ruang yang menujukkan solusi, bukan merujuk pada suatu perkara baru.

Kata teman saya, sistem pendidikan berbasis online baiknya selalu mengedepankan sifat mempermudah yang sukar, mempercepat yang lambat dan  juga mempermurah yang mahal. Namun, seberapa banyak diantara kita yang menjalankan kaidah ini?. Tidak usah ditanya lagi, jika kuliah online masih menerapkan sistem daftar hadir.

Saya seketika tidak habis pikir, jika ada oknum dosen yang masih menerapkan sistem daftar hadir. Bukannya perkuliahan daring selalu menuntut kemudahan?, bagaimana dengan mahasiswa yang berada di daerah terpencil dan minim akses internet?. Apa perlu dibebankan hadir dalam waktu yang ditentukan?

Ada-ada saja perilaku anda, saya tidak menyalahkan sistem perkuliahan seperti ini. Tapi esensi dari cyberspace tidak seperti memindahkan pertemuan dalam kelas ke ruang maya saja, tanpa mempertimbangkan aspek dan respon kultural dari masing-masing pesertanya.

Sudut pandang yang saya paparkan di atas, merupakan satu dari selingkung sudut yang ada. Sudut ini dipaparkan dari hasil pengamatan saya melihat dan merasakan pola perilaku mahasiswa, jika tidak segera menawarkan solusi, akan semakin memperburuk situasi yang mestinya dilewati dengan enjoy.

Efektifitas Nguli(ah) Online

Perkuliahan online bagi beberapa mahasiswa di Sulawesi-Selatan masih menjadi polemik tersendiri, bayangkan saja jika ia harus belajar dan kuliah dari rumah. Sedangkan orang tua mereka masih memahami kerja dan kuliah dengan defenisi yang konfensional.

Orang tua memahami perkuliahan dengan cara pertemuan tatap muka, sesekali mencatat materi kuliah dalam buku catatan dan diselingi dengan membuka diktat-diktat yang super tebal. Namun untuk konteks mahasiswa jaman sekarang, tentu perikaku seperti itu sudah sangat janrang ditemui.

Perkuliahan online saat ini, justru hanya mengandalkan satu perangkat keras saja, leptop misalkan. Contohnya seorang mahasiswa yang multitasking menggunakan leptopnya mendengarkan materi via zoom, sembari mencatat menggunakan Microsoft Word, serta membaca materi dalam bentuk PDF.

Jadi dengan menggunakan satu leptop saja, semua hal yang menyangkut perkuliahan sudah dapat teratasi. Namun sayang seribu sayang, karena ditengah kemudahan itu, pandangan konfensional tetap saja muncul. Saya sempat menyaksikan jika beberapa mahasiswa diumpat, diomeli dan bahkan dimarahi.

Karena kerjaannya hanya “bermalas—malasan” di depan leptop dengan menggunakan headset, dikirianya ia sedang bermain leptop sembari mendengarkan lagu dan membagun ruang privatnya. Padahal yang ia dengarkan adalah materi perkuliahan yang sedang berat-beratnya.

Saat mendengar materi kuliah yang sedang berat-beratnya menggunakan headset di depan leptop, lantas oleh orang tua anda hanya dikiran bermain atau bahkan bermalas-malasan, maka perasaan apa yang anda rasakan?. Haru?, belum tentu. Kesal?, sudah pasti!!!

Peristiwa seperti ini merupakan perkara baru dalam situasi Work From Home (WFH) dan Study From Home (SFH). Mahasiswa yang ada di pelosok, dengan permasalahan seperti yang saya paparkan di atas, tentu akan sulit memahami ihwal konten yang sangat subtansial. Jadi, apa sudah efektif?

Saya sedikit khawatir, ketika membandingkan perkuliahan online yang dilakukan orang-orang di luar negeri yang juga sedang diadobsi oleh kampus-kampus berstandar internasional di Jawa. Ketika saya mengikuti satu kelas yang ditawarkan, saya betul-betul merasa metode dan pelaksanannya cukup berbeda.

Masa Pandemi Covid-19

Masa pandemi Covid-19 sedikit banyak merubah pola tatanan perilaku manusia, termasuk dalam ruang-ruang perjumpaan akademik. Pada ruang akademik sendiri, berbagai macam perspektif hadir dan turut andil dalam mengupas dan menelaah dampak pandemi ini.

Termasuk salah satunya isu virtual dan lingkungan, saat ini semakin manusia rehat dari aktivitasnya, maka semakin sehat pula Bumi yang kita diami. Masa pandemi baiknya dimaknai dan direnungi untuk bersikap lebih adil terhadap dunia virtual dan lingkungan.

Mengapa?, Karena dengan begitu segala perjumpaan yang berbasis pada pertukaran informasi, termasuk dengan pengambilan keputusan. Berpindah pada ruang virtual yang digadang-gadang akan menghema pengeluaran, pengeluaran tentu akan berlebih pada paket internet.

Saya akan memberikan analogi yang terinspirasi dari kelas online yang sempat saya ikuti. Coba dibayangkan, untuk satu kali perjumpaan dalam perkuliahan konfensional yang memiliki anggota 20 orang, setiap 1 orang akan menghabiskan bensin 1 liter untuk mengunjungi kampus sebagai tempat perkuliahan dilaksanakan.

Maka akan habis 20 liter bensin untuk satu kali perjumpaan perkuliahan secara konfensional, dari situ bisa dikalkulasikan lagi. Berapa banyak karbon yang kita bakar untuk satu kali perjumpaan, jika perjumpaan itu hanya di isi dengan pertukaran informasi, pengetahuan atau transfer ilmu.

Tentu berbeda dengan perjumpaan yang di dalamnya di isi dengan aktivitas yang teknis, seperti ke pasar atau pertukaran yang berbasis material lainnya. Jadi ada baiknya jika 70% perjumpaan yang berbasiskan informasi dalam dunia kampus, dipindahkan melalui virtualspace.

Perilaku seperti itu, akan turut andil dalam menyelamatkan Bumi dari pemanasan global. Sebab bagi Harvey tidak ada yang betul-betul dinamakan bencana alam, bencana alam terjadi karena adanya eksploitasi yang berlebih terhadap alam, sehingga alam memberikan responnya secara alami.

Untuk memaksimalkan perjumpaan secara virtual yang membantah sekat geografis, maka yang mesti diperhatikan adalah saran dan prasarana yang harus memadahi. Dengan begitu, aktivitas geografis manusia bisa ditekan dan diminimalkan sesedikit mungkin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *