Semesta Berbisik

We'ar All Human, Celebrate Diversity

Pembangunan Untuk Semua Makhluk

Ooh burung, berdirilah katakan padanya aku rindu…

-yang sedang viral.

Saya ingin memulai pembahasan ini dengan lagu yang sedang viral, seolah mencubit sederet keabsahan tentang protokol kesehatan (jaga jarak, hindari kerumunan, memakai masker, dll). Momen ini viral dengan sekejap, secepat kilat menjadi buah bibir yang begitu ranum akan kebenaran, namun seketika ciut takkala diperhadapkan dengan perilaku konservatif. Perilaku konservatif yang saya maksud di sini adalah pembangunan yang hanya memikirkan sesama manusia. Mengapa begitu? Bayangkan saja, salah satu jalan raya dilakukan pembangunan trotoar untuk pejalan kaki, begitu luas dan megah, namun rasanya membawa sedikit kekawatiran, mengapa begitu? Berikut saya jelaskan kekawatiran itu!

Pertama, pembangunan trotoar yang dilakukan hanya untuk segelintir orang yang tidak punya kendaraan, penjual asongan, penjual dadakan, penjual songkok, buah, bawang, sampai penjual tisu. Jadinya pembangunan ini tidak sepenuhnya diperuntuhkan untuk pejalan kaki atau tuna netra yang difasilitasi marka tertentu di tengah trotoar. Kedua, pembangunan trotoar ini menggusur semua makhluk yang menganggu rutenya. Menggusur pedagang tadi, menganggu lalu lintas, sampai dengan menebang pepohonan rindang. Padahal di pepohonan itu justru memiliki kehidupan, berapa banyak spesies burung yang kehilangan rumah, bahkan siapa yang bisa menanggung jika di beberapa pohon yang sudah hilang itu, ada roh tenri—ita yang bermukim.

Ketiga, jika jeli mengamati perilaku orang-orang yang hidup di sini jauh lebih dalam. Maka jawabannya bukan memperbaiki trotoar, tapi justru malah memperbaiki jalan. Kenapa? Karena di sini, orang yang bertetangga 5 sampai 15 meter, cara mereka saling mengunjungi tidak kurang menggunakan sepeda motor. Kalaupun mereka memilih jalan kaki, maka akan mempertimbangkan lagi tingkat keteduhan atau kerindangannya. Saya khawatir mereka cuma membangun atas dasar keindahan, atas dasar fasilitas sesama manusia, bukan atas dasar keberlangsungan hidup makhluk lain. Nah, sebetulnya pembangunan ini untuk siapa? Tentu bukan untuk burung yang sedang viral dong! Jadi pernahkah mereka membangun dengan pertimbangan semua makhluk?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *